Nggak sengaja saya bertemu dengan sosok bapak tua bernama pak naim. Waktu itu ahad pagi pas selesai kerja bhakti membersihkan musholla,
saya lihat seorang bapak bersama anak kecil sedang asyik mengail ikan
di sepanjang selokan besar samping musholla. Ketertarikan saya dengan
hal pancing-memancing membuat saya berjalan menghampirinya.
“Dapat
banyak ikannya, pak?”, sapa pembuka saya.
“Alhamdulillah, cukup banyak
meski agak kecil-kecil ikannya, mas”, jawab beliau dengan bahasa jawa
halus plus logat maduranya. Saya lihat tak kurang dari 10 ekor ikan
mujair seukuran 2-3 jari orang dewasa.
“Itu putranya, pak?”, tanya saya sambil melihat seorang anak
laki-laki kecil seusia kelas 1 atau 2 SD yang juga tengah asyik
memancing. Dugaan saya pastilah cucunya mengingat jarak usia yang cukup
jauh.
“Iya, Mas. Itu putra saya. Saya terlambat nikah”, sambut pak naim
seolah-olah tahu isi benak saya.
“Saya dulu diwanti-wanti sama orang tua
sewaktu masih nyopir. Jangan pernah main perempuan. Alhamdulillah nggak
pernah sama sekali tubrukan. Dan akhirnya saya baru menikah setelah
tidak lagi jadi sopir”, jelas beliau.