Showing posts with label empati. Show all posts
Showing posts with label empati. Show all posts

Wednesday, April 3, 2013

Kisah Kehidupan: Keluarga Muda di Bus Ekonomi #2 (Tamat)

Perjalanan agak tersendat. Bus dan kendaraan besar tidak diperbolehkan melewati jalan layang Sepanjang dan dialihkan jalurnya lewat jalan bawah. Sebabnya, sebuah truk pengangkut gabah mengalami patah as roda belakangnya saat berjalan naik. Volume kendaraan yang lumayan besar sedangkan jalurnya yang sempit mengakibatkan jalanan menjadi macet.

Kembali ke keluarga muda tadi. Tak lama kemudian sang bocah sepertinya mulai kehausan. Rewel di gendongan. Sigap, sang ibu segera meminta sang ayah untuk mengambil susu di tas jinjing yang ditaruh di dekat pintu belakang bus. Srettt... Resleting tas terbuka. Sepintas saya lihat segebok pampers bayi dan satu kotak susu formula bayi. Lumayan mahal setahu saya [kebetulan sering belanja pampers dan lihat harga-harga susu bubuk kemasan di toko swalayan]. Sekejap, sang ayah sudah memegang susu botol dan kemudian diberikan ke istrinya. Sepertinya sudah disiapkan sejak di rumah.

Wednesday, March 6, 2013

Kisah Inspirasi: Sepasang Pengamen Jalanan

Subhanallah. Mungkin hanya kata itu yang bisa saya ucapkan saat melihat sepasang suami istri berjalan berdampingan sore hari kemarin dan beberapa hari sebelumnya. Guyub, ceria, saling melepas senyum berdua, meski dengan baju yang lusuh dan dihiasi topi yang sudah pudar warnanya. Sepertinya pakaian dan topi lama yang telah sekian tahun menemani perjalanan hidup.

Monday, March 4, 2013

Kisah Inspirasi: Sebiji Mangga Golek

Malam itu kebetulan ada waktu bagi saya untuk mengajak istri keluar. Ngisis di saat rasa sumuk memenuhi isi rumah saat gelap tiba. Karena stok buah-buahan sudah habis di meja makan, maka kami putuskan membeli mangga. Bukan shopping ke mall yang full AC, tapi cukup ke warung penjual buah dekat rumah.

Setibanya di warung saya langsung mengambil tas kresek plastik dan segera memilih satu demi satu mangga yang masak dan bagus bentuknya. Sampai akhirnya terkumpul 6 buah mangga dengan total berat 2 kilogram. “Sudah cukup”, batin saya. Langsung saya bayarkan uang 12 ribu rupiah ke pemilik warung dengan sangat ringan dan tanpa berpikir panjang untuk menawar. “Toh cuma 12 ribu. Murah. Uang transport sehari di kantor saja masih kembali (susuk)”.